Kenapa 'Salah Jalan' Adalah Bagian dari Peta
Saya secara pribadi merasa bahwa kita dididik untuk takut salah sejak kecil. Merah di rapor adalah aib.
Tapi kalo di video game, “salah jalan” adalah satu-satunya cara membuka peta area baru. Apakah di dunia nyata juga demikian?
Kesalahan sebagai Data Point
Dalam metode ilmiah, hasil null tetaplah data valid. Ketika kita mengajukan sebuah hipotesis dan ternyata menurut penelitian hipotesis kita tidak terbukti, bukan berarti kita harus mengulangi penelitiannya. Jika prosedur eksperimen sudah dilaksanakan dengan baik, berarti hipotesis tidak terbukti itu adalah hasilnya. Dan ini adalah hasil yang valid, ga perlu ngulang sampai terbukti.
Jika diibaratkan matematika, ketika kita mengajukan hipotesis bahwa 1 + 1 = 10. Kemudian hasil eksperimen membuktikan bahwa 1 + 1 tidak sama dengan 10, kita tidak perlu mengulang eksperimennya. Kesimpulannya adalah 1 + 1 tidak sama dengan 10.
Hipotesis yang tidak terbukti ini bukan berarti sebuah kesia-siaan yang perlu ditakutkan, tetapi merupakan sebuah sinyal yang membuat kita harus berpikir ulang. Ketika kita takut dengan hal ini, kita jadi tidak bisa memperbaiki diri.
Pasti Salah Jalan
Bayangkan seperti ini, kita ingin bepergian ke sebuah tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Tanpa ada google maps, saya yakin kita akan berkali-kali bertanya kepada orang, salah jalan, putar balik gara-gara acara warga dan lain-lain. Tapi apakah kita hanya mau menunggu peta jatuh dari langit membimbing kita menuju tempat yang ingin kita kunjungi?
Kehidupan pun demikian, kita memiliki sebuah ‘tujuan’ yang ingin kita capai. Kita belum tahu mana jalan yang cepat, tepat dan akurat untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, dalam satu titik, kita pasti menghadapi salah jalan, putar balik, bertanya kepada orang lain dan lain sebagainya.
Jangan anggap hal tersebut sebagai sebuah kesalahan yang terlalu memalukan sehingga membuat kita membeku di tempat. Lebih baik anggap hal tersebut sebagai sarana untuk membuat peta kita jauh lebih berkembang daripada sebelumnya.
Kesimpulan
Tidak ada “peta kehidupan” yang turun dari langit untuk kita. Mulailah berjalan, salah belok, putar balik dan ingat untuk selalu mencatat setiap belokan yang ada agar kita bisa mengembangkan peta kita sendiri untuk mengarungi perjalanan kehidupan kita sampai tujuan kita nanti.