Impostor dalam Otak Kita
Kita sering berpikir, “Seandainya aku seperti ini, aku pasti bahagia selamanya.”
Spoiler: Otak anda tidak didesain untuk bahagia, dia hanya ingin bertahan hidup.
Dopamin, Pemberi Semangat Hidup
Sebuah neurotransmitter yang dinamakan dengan Dopamin (kita mungkin sering mendengarkannya) adalah molekul yang dikeluarkan oleh otak saat kita menginginkan, bukan saat menikmati.
Dopamin adalah sebuah molekul yang membuat kita ‘terus berusaha’ dan membuat rasa puas di dalam otak kita. Ketika tujuan kita sudah tercapai, produksi dopamin akan menurun karena kita sudah mendapatkannya.
Ini mirip seperti seekor anjing yang mengejar mobil. Awalnya anjing ini lari, menggonggong penuh semangat. Tapi ketika mobilnya berhenti, anjing itu akan bingung dan tidak menggonggong lagi. Kalo mobilnya udah kena dia mau ngapain lagi? Gigit bannya?
Mempertahankan Lebih Sulit daripada Meraih
Ini bukan hanya kata-kata motivasi belaka, ini adalah efek dari dopamin (dan anjing tadi).
Saat ingin menikah, otak kita dipenuhi dengan ekspektasi tinggi tentang pasangan kita. Dopamin keluar terus membayangkan bagaimana jika kita sudah membangun rumah tangga. Setelah menikah, lalu apa?
Ketika mendengarkan seminar motivasi pun sama. Kita sudah dipenuhi dengan ekspektasi bahwa kita bisa mengejar sukses dengan kerja keras. Setelah mencoba dan tahu hasilnya (secara statistik, kebanyakan gagal sih), lalu apa?
Meraih sesuatu membuat otak kita mengeluarkan dopamin dan merasa puas, sementara ketika kita sudah mendapatkannya ‘mempertahankannya’ dengan komitmen tidak lagi mengeluarkan dopamin dan perasaan puas.
Sederhananya, otak kita tidak pernah merasa puas. Dia selalu ingin mengejar ‘sesuatu’.