Saat Logika Kalah oleh Sudut Pandang


Apakah kalian adalah hakim yang adil dalam menilai sebuah argumen?

Seringkali jawabannya adalah tidak. Kita bukan hakim, kita adalah pengacara yang sedang membela diri sendiri mati-matian.

Logika vs Sudut Pandang

Ini disebut dengan Belief Bias, sebuah kecenderungan psikologis dimana kita menilai kebenaran berdasarkan seberapa selaras kesimpulan tersebut dengan keyakinan mereka saat ini.

Jika kesimpulannya terasa benar di hati, otak kita akan mematikan fitur kritisinya dan mengabaikan cacat dalam kesimpulan tersebut. Bukan untuk mencari kebenaran, tetapi lagi-lagi untuk mempertahankan kenyamanan.

Ini sama kayak kalian menggunakan kamera depan untuk selfie, tetapi filter tetap menyala. Seberapa berantakan wajah kalian, secara otomatis kamera akan menyesuaikan dengan filter yang sudah kalian nyalakan.

Kalian tidak sedang bercermin dengan kamera depan, hanya butuh validasi.

Debat Kusir

Penilaian manusia terhadap lingkunganya tidak murni logis, tetapi dipengaruhi oleh filter sudut pandang mereka.

Ini juga yang menyebabkandebat politik dan agama tidak pernah menghasilkan pemenang, hanya menghasilkan kejengkelan yang menyakitkan.

Kita semua memandang dunia melalui kacamata kita sendiri. Pertanyaannya sekarang, jika seluruh dunia terlihat buruk dimata kalian, apakah kita perlu mengubah dunia? Atau kita rubah kacamata kita?