Hope for The Best, Prepare for The Worst


Sementara ini, saya tidak bisa menunjukkan darimana asal kata yang saya gunakan dalam judul artikel ini. Anggap saja itu kata-kata saya dulu. yang berarti ‘kita berharap untuk yang terbaik, dan mempersiapkan untuk yang terburuk’.

Menurut saya, ini adalah sebuah fenomena manajemen yang setiap kali coba saya terapkan. Ketika saya mempersiapkan sesuatu, saya seringkali membayangkan sesuatu tersebut berjalan tidak sesuai dengan apa yang sudah saya rencanakan. Apakah itu salah?

Saya menganggap hal ini baik untuk dilakukan, tetapi ternyata ada sebuah artikel yang menurut saya patut kita pertimbangkan.

Kiamat sudah Dekat

Mungkin ini terasa tidak apple to apple dengan apa yang sudah saya jelaskan di atas, tetapi sebagai orang islam yang pernah diajarkan tentang tanda-tanda hari akhir sejak sekolah dasar, saya merasa bahwa kiamat sudah benar-benar dekat.

Tolong kesampingkan dulu beberapa perbedaan agama diantara kita dan biarkan saya bercerita apa yang saya yakini sebagai sebuah tanda-tanda hari akhir. Kita melihat banyak sekali bencana, lalu kemudian perzinahan dimana-mana bahkan sudah menjadi konsumsi publik. Kita melihat minuman beralkohol dihalalkan bahkan oleh orang iman sekalipun. Berita tentang dajjal pun sudah ada. Apa lagi yang kurang? Ah, iya matahari terbit dari barat.

Hal tersebut membuat saya cemas sekali, sampai-sampai saya takut untuk menghadapi hari esok. Apalagi besok hari Senin.

Apakah kalian merasa bahwa pembahasan kiamat ini sesuai dengan judul kita?

Ini adalah salah satu bentuk ‘terburuk’ dari ‘prepare for the worst’. Ketakutan kita pada kiamat terasa sangat nyata, bahkan ketika saya membaca hal tersebut saya serasa nge-freeze, padahal hal tersebut masih belum tentu terjadi (mohon maaf, kiamat pasti terjadi tetapi belum tentu terjadi saat saya masih hidup)

Ini adalah salah satu bentuk sesat pikir yang minggu kemarin saya bahas yaitu ‘Slipery Slope’.

Pemikiran Rasional dan Probabilitas

Baiklah, saya rasa pembahasan kiamat terlalu jauh dari kita. Kita mulai dari yang dekat, kecelakaan pesawat.

Saya baru saja melakukan cek berita tentang kecelakaan pesawat yang terjadi baru-baru ini. Berita ini di terbitkan pada 26 Januari 2026.

Saya rasa beritanya tidak booming seperti beripa MH370 10 tahun yang lalu, atau Adam Air ketika saya masih bersekolah di sekolah dasar. Mari kita bahas dan berkata seolah-olah berita tersebut booming, apa yang akan kita rasakan ketika ingin bepergian naik pesawat?

Cemas bukan?

Tetapi, jika kita berbicara data. Sehari saja ada 3000 pesawat take off di Indonesia, berapa yang kecelakaan setiap hari?

Peluang anda kecelakaan pesawat itu gambarannya kayak gini, ambil sebutir beras merah, lalu taruh di dalam sekarung beras putih. Kocok dan kemudian ambil sebiji beras. Menurut kalian, mungkin ga kalian bisa ambil beras merah dalam sekali ambil?

Secara matematis, mungkin. Secara common sense, kayaknya ga mungkin deh.

Nah, jika kalian naik pesawat, peluang kalian kecelakaan itu sama kayak kalian ngambil beras merah di sekarung beras putih tadi.

Ahhhh… Matematika ribet. Intinya, secara data pesawat itu alat transportasi paling aman dibandingkan alat transportasi lainnya. Tapi ketika kita melihat ada kecelakaan pesawat kita langsung ‘prepare for the worst’ tanpa menghitung peluang nya tadi.

‘Ga usah naik pesawat deh, mending kereta api aja’. Padahal peluang kecelakaan kereta api lima kali lebih besar daripada peluang kecelakaan pesawat.

Kenapa Begitu?

Meskipun ada orang yang suka dengan matematika (meskipun matematika beneran ribet), tetapi pembanding seperti itu masih dilakukan bahkan oleh orang yang mengerti matematika sekalipun…

Kelakuan seperti ini bukan berarti kalian tidak suka matematika makanya kalian tidak bisa berhitung dengan peluang, tetapi lebih kepada manusia memang di design seperti itu.

Otak manusia menangani ribuan keputusan setiap hari. Kalian pertama kali membuka mata, kalian akan dihadapkan oleh keputusan apakah mau narik selimut yang jatuh dengan tangan kanan atau tangan kiri, atau bahkan ga usah ditarik, merem lagi aja. Belum lagi kalian harus memutuskan makan dimana selain ‘terserah’.

Bayangkan jika ribuan keputusan tersebut didasarkan pada perhitungan matematis? Wuihhhh… bakalan seribet apa kehidupan kita.

Oleh karena itu otak secara intuitif akan memilih jalan pintas. Nah, jalan pintas ini lah yang membuat otak lebih memilih ‘menghindari bahaya’ meskipun peluangnya kecil.

Darimana pilihan otak ini? Tentu saja dari kebiasaan bertahun-tahun di zaman dulu.

Contoh kasusnya begini, ketika ada suara berisik dari semak-semak di zaman purba. Menurut kalian ada apa disana?

Ada banyak kemungkinan. Mungkin saja ada buruan, mungkin cuma angin, mungkin ada ular, mungkin ada singa.

Ketika manusia zaman dulu mendengar suara berisik tersebut, mereka juga pastinya memiliki prasangka tertentu dan kemudian bertindak berdasarkan prasangka tersebut. Bagaimana jika mereka menyangka kalau disana itu ada singa, tetapi ternyata yang ada buruan? Mereka tetap hidup dan mencari makanan di tempat yang lain.

Bagaimana jika kasusnya dibalik, mereka menyangkan kalau disana ada buruan, tetapi ternyata ada singa? Mereka akan mati.

Generasi setelahnya pun akan belajar bahwa suara gemerisik di semak itu menakutkan, bahkan sebelum mereka memperhitungkan probabilitas atau apa pun yang ada di dalamnya.

Begitu juga dengan generasi kita semua.

Kesimpulan

Singkatnya, otak kita secara bawaan memang tidak disetel untuk selalu bahagia dan cerah setiap saat. Sebaliknya otak kita disetel untuk selalu mencurigai sesuatu dan ‘prepare for the worst’.

Kecemasan itu bukan salah kalian, memang otak aslinya seperti itu.