Otak Malas dan Otak Gegabah


Berpindahlah ke platform hiburan anda, kemudian coba tonton beberapa episode dracin tentang seorang CEO dengan kekayaan yang tidak masuk akal dan jatuh cinta pada wanita yang baru saja dia temui.

Dia sangat bucin dan memberikan seluruh harta warisannya tanpa pikir panjang kepada wanita tersebut.

Atau… Ah… Saya jarang menonton drama vertikal seperti itu jadi saya ambil referensi dari cerita yang saya dengar. Apa yang bisa kita ambil dari cerita tersebut?

Drama Sialan

Saya pernah terjebak untuk menonton drama vertikal secara full dengan penuh perjuangan (sebenarnya perjuangannya adalah mencari aplikasi crack yang bebas virus dan tidak membayar). Sebagai seorang pembaca dan pengamat cerita, saya merasa bahwa struktur plot yang ada di dalam drama tersebut terlalu tidak efisien.

Ada episode yang tidak berperan sama sekali dalam plot, seperti angka 0 dalam penjumlahan (saran saya jangan beli per episode, kesal sekali jika kita dapat episode seperti ini)

Semakin saya menjelajah semakin dalam ke dalam ceritanya, otak saya yang awalnya sedang stand by tiba-tiba terbangun karena alarm. Sudah pukul 3 pagi, dan saya belum menutup mata saya sama sekali. Parahnya lagi… BESOK SENIN!!!.

Tetapi akhirnya ada hikmah di balik tontonan saya dari malam sampai dini hari. Saya akhirnya benar-benar bisa merasakan bahwa di dalam kepala saya ada dua otak. Daniel Kahneman menyebutnya sebagai Sistem 1 dan Sistem 2 (dan menurut saya memberikan nama angka pada sebuah sistem itu tidak mendeskripsikan apa pun. Mohon maaf Kahneman, anda jenius tetapi lain kali bisa diberikan nama yang deskriptif ga ya). Agar memudahkan kita, kita beri nama saja dua otak ini adalah Otak Gegabah dan Otak Malas.

Jalan Keputusan

Untuk melengkapi gambaran kita, bayangkan jika kehidupan kalian adalah rute jalan yang ada di Pulau Jawa. Ada belokan, ada persimpangan, ada gerbang tol dan lain sebagainya. Di tepi jalan juga ada banyak hal, ada toko kelontong, ada tambal ban, ada pom bensin.

Dua otak ini mengendarai sebuah mobil untuk mengarungi kehidupan kalian menuju tujuan yang ingin kalian capai. Anggap saja tujuan kalian menuju ke Jakarta maka dua otak ini mengendarai mobil pikiran kita untuk menuju ke Jakarta. Dan kalian tahu dong siapa yang menyetir.

Betul sekali, otak gegabah adalah yang menyetir mobil pikiran kita. Sementara otak malas hanya tiduran di bangku belakang sambil membaca peta.

Otak gegabah ini sebenarnya sopir yang ‘cakap’. Tapi dia suka marah-marah, banting setir tidak jelas, dan seringkali tergoda untuk melirik ke kanan dan kekiri, mencari sesuatu yang menarik seperti pemandangan orang terpeleset di tepi jalan.

Otak malas, sebenarnya pintar dan penuh perhitungan tetapi dia tidak bisa menyetir mobil sehingga dia duduk di belakang sambil melihat peta. Dia akan berbicara tentang teori bagaimana kita mengendarai mobil, tetapi entah otak gegabah akan mendengarkannya atau tidak.

Tunggu, tunggu, tunggu… Bagaimana ini berhubungan dengan apa yang sudah kita bahas mengenai drama cina di atas?

Saya Ingin Tidur

Bayangkan, anda sudah lelah bekerja selama delapan jam, kemudian besok harus bekerja lagi. Ini sudah jam 10 malam dan mata anda sudah setengah tertutup. Badan anda sudah berbaring di kasur dengan suasana yang sangat membuat ngantuk.

Otak malas yang berada di bangku belakang pasti akan menyuruh si otak gegabah ini untuk belok sebentar mengisi bensin. Tetapi otak gegabah melihat ada tanda penunjuk jalan ‘Apakah CEO ini akan jatuh cinta sama gadis ini? Bagaimana kelanjutannya?’. Apa yang akan otak gegabah lakukan? Tentu saja tancap gas.

Ga peduli bensin udah mau abis. Ga peduli mobil udah goyang-goyang karena bannya kempes. Kita harus ke sana, ada sesuatu yang menarik di sana.

Otak malas sebenarnya tahu betul kita bakalan cape, tapi dia cuma bisa melihat peta sambil bergumam ‘bentar, bentar, mungkin kita bisa lewat jalan ini biar ga capek besok’.

Tahu tahu alarm sudah berbunyi.

Asal Sopir Senang

Meskipun kita sedikit sebal dengan apa yang otak gegabah lakukan, tetapi otak gegabah memiliki peranan yang sangat penting, yaitu sebagai sopir mobil pikiran kita. Peranan macam apa itu?

Kita kembali lagi ke asal mula dari gambaran dua sopir tadi, yaitu teori Kahneman tentang dua sistem yang berada dalam otak kita. Kita selalu memutuskan dengan menggunakan dua otak ini. Meskipun mobil pikiran kita dijalankan oleh otak gegabah dan otak malas hanya tiduran di bangku belakang sambil melihat peta, tetapi dua otak tersebut merupakan fondasi pembuat keputusan kita.

Ada kalanya sopir gegabah ini menjadi sedikit ‘waspada’ sehingga dia berhenti terlebih dahulu dan menanyakan sesuatu kepada otak malas yang ‘pintar’ ini. Otak malas pun meskipun hanya tiduran saja, tetapi begitu dia melihat otak gegabah menjadi ‘waspada’, dia pun tidak tiduran dan duduk sambil melihat peta besarnya.

Tetapi dari gambaran tersebut kita bisa melihat bahwa keputusan paling besar tetap ada pada sopir ‘gegabah’ kita. Dan apakah sistem otak ini?

Ini adalah sistem cepat yang selalu menilai berdasarkan kebiasaan dan kecakapan. Ini adalah yang membuat kita bisa menggunting kertas bahkan sambil menggosip, atau nyetir motor sambil telepon. mengancingkan baju sambil merem dan lain sebagainya. Sedangkan ketika otak gegabah ini ‘waspada’ adalah ketika kita berhubungan dengan tugas yang tidak pernah kita lakukan contohnya adalah mengerjakan soal matematika, menghitung pemasukan dan pengeluaran dsb.

Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa otak gegabah tidak hanya bertindak untuk kebiasaan, tetapi bertindak untuk mengatur emosi. Senang, sedih, terkejut, takut dsb semuanya terjadi secara spontan tanpa kita pikirkan. Ini adalah hasil dari pemikiran si otak gegabah.

Kesimpulan

Emosi yang kita rasakan adalah hasil dari keputusan cepat otak ‘gegabah’. Ketika otak ini melihat sesuatu yang membuat kita senang, dia akan langsung tancap gas menuju ke sesuatu tersebut, tidak peduli dengan peta yang sudah dipegang oleh otak malas yang berada di bangku belakang.

Pertanyaannya, apakah sesuatu yang membuat kita senang itu bisa mengantarkan kita menuju ke tujuan kita?