Pikiran yang Jernih Membuat Seseorang Bahagia


Berapa jam yang sudah kalian habiskan di sosial media hari ini? Orang Indonesia rata-rata menghabiskan waktu 6 jam sehari untuk scrolling video pendek vertikal entah itu di Relles, Short maupun Tiktok.

Saya juga orang Indonesia, tetapi mohon maaf saya adalah orang Indonesia di bawah rata-rata. Sejak awal masuk ke dunia internet, saya adalah seorang silent reader sehingga membaca dan membalas komentar tidak begitu relate dengan saya. Tetapi ketika saya sedang menonton sebuah video pendek di Youtube, entah kenapa sepertinya saya benar-benar dipaksa untuk melihat komentar agar saya mengerti apa konteks dari video tersebut.

Sebagai seorang silent reader, saya benar-benar merasa sebal. Tetapi dari beberapa video pendek yang sudah saya baca beberapa komentarnya, saya mendapat beberapa hal.

Perdebatan yang Melelahkan

Secara umum, kecepatan pemrosesan informasi pada manusia hanya 39 bit setiap detik. Kita bisa membaca komentar dengan cepat, tetapi ketika kita tertarik dengan sebuah komentar, kita tidak bisa langsung scroll ke bawah., Kita akan membaca komentar tersebut dan pasti akan mendapati sesuatu yang kita asumsikan sendiri.

Ketika kita berdialog, kita melibatkan banyak sekali variabel seperti mimik wajah, intonasi, bahasa tubuh dsb. Ketika kita membaca komentar, kita tidak bisa mendapatkan hal tersebut. Otak gegabah kita melihat sebuah tanda lampu bahwa di depan ada restoran, tetapi dia tidak tahu seberapa jauh restoran tersebut. Apa yang akan dia lakukan? Pilihan paling bijak adalah dengan bertanya kepada otak malas di belakang yang membawa peta untuk mengecek apakah tanda tersebut palsu atau tanda tersebut asli.

Tapi apa yang dilakukan oleh otak kita? Tentu saja dia akan terus menyetir, berasumsi bahwa ada restoran di depan sana.

Itulah yang kita rasakan ketika kita sedang membaca komentar. Kita bisa melihat isi komentar, tetapi kita tidak mengerti apa konteks orang yang berkomentar ini. Apakah dia berpendidikan? Apakah dia AI? Apakah dia sedang depresi?

Otak kita tidak mengetahui konteks komentar tersebut secara lengkap. Akhirnya, otak kita membuat asumsi sendiri untuk mengisi kekosongan tersebut. Orang ini pasti buzzer, orang ini kayak bocil, orang ini wibu, kpopers dsb.

Bahkan ketika kita mencoba melakukan crosschek dengan memeriksa profil dari penulis komentar, tetapi asumsi tersebut tidak dapat hilang dari pikiran kita. Otak gegabah sudah terlanjur lapar melihat tanda restoran di depan, dia ingin segera makan.

Tersesat dalam Kepala

Lalu apa akibatnya jika kita seringkali berdebat di sosial media?

Ini bukan sekedar perdebatan di sosial media. Otak gegabah kita perlu sekali dilatih agar bisa mengendarai mobil sampai ke tujuan kita yang sebenarnya, tidak hanya bermain kebut-kebutan. Siapa yang memegang navigasi? Tentu saja otak malas yang sedang tiduran di belakang mobil pikiran kita.

Seringkali kita tidak pernah menanyakan konteks dan peta navigasi kepada pemalas yang ada di belakang mobil pikiran kita. Otak gegabah kita seringkali melaju dengan kecepatan tinggi, berharap agar dia mendapatkan seseuatu hanya dengan melihat tanda yang menyesatkan.

Peta Realitas

Sejak beberapa hari kemarin saya membahas masalah otak malas yang membawa peta, peta apaan sih?

Peta yang saya maksud disini adalah peta realitas. Peta realitas itu bukan sebuah peta jadi yang langsung diturunkan dari langit untuk otak malas, tetapi sebuah peta yang dikembangkan melalui data yang sudah dikumpulkan selama perjalanan hidup kita.

Meskipun otak malas tidak pernah menyetir mobil pikiran, otak malas aktif dalam mengamati navigasi dan membuat peta sesuai dengan perjalanan yang sudah dilakukan oleh otak gegabah. Hasilnya, peta yang telah dibuat oleh otak malas seluas apa yang sudah dijelajahi oleh otak gegabah.

Dengan bantuan peta ini dan sedikit saran dari otak pemalas, otak gegabah melaju melewati jalan pikiran dan keputusan kita yang berkelok-kelok. Otak gegabah memang ‘gegabah’ sehingga terkadang tidak mempertimbangkan peta, tetapi ketika dia mengalami kemacetan dia pasti akan bertanya kepada otak malas yang tiduran di belakang.

Bagaimana dengan Kebahagiaan?

Selama ini, kita hanya membahas masalah otak gegabah dan otak pemalas, dua tokoh utama fiktif yang berada di dalam kepala kita tanpa membahas lebih lanjut masalah ‘kebahagiaan’. Lalu apa itu kebahagiaan?

Dalam analogi kita tentang dua orang yang mengendarai mobil ini, kebahagiaan adalah sebuah jalan yang telah ditandai oleh otak pemalas kita dalam peta realitasnya. Ketika mencapai titik tersebut, otak gegabah akan sangat senang sehingga seringkali otak gegabah tanpa sadar menyetir ke arah jalan tersebut.

Tetapi seperti jalan di kota kita, seringkali jalanan tersebut berubah keadaannya. Terkadang macet, terkadang penuh lubang dan terkadang pemandangannya berubah. Otak gegabah yang awalnya tahu bahwa jalanan ini memiliki kenangan yang membahagiakan, seringkali merasa kecewa karena perasaannya ketika melewati jalanan tersebut berubah.

Sama seperti beberapa artikel yang saya tulis beberapa hari yang lalu.

Kita menyangka bahwa kebahagiaan ini adalah sebuah titik yang harus kita capai. Dopamin mengalir deras ketika otak gegabah menyetir secara ugal-ugalan menuju ke arah titik tersebut, bahkan tanpa bertanya kepada otak pemalas yang (lagi-lagi) tetap tiduran di bangku belakang. Tetapi begitu otak gegabah telah sampai di titik tersebut, apa yang menjadi ekspektasinya tidak tercapai.

Apa Solusinya?

Otak pemalas memang jarang bergerak, tetapi peta yang dihasilkan sungguh akurat, meskipun hal itu tergantung pada perjalanan macam apa yang sudah ditempuh oleh otak gegabah. Tapi seringkali otak gegabah tidak mau bertanya tentang titik mana yang membuatnya bahagia, jalan macam apa yang perlu di lewati untuk mencapai titik tersebut.

Otak gegabah hanya mengikuti ‘insting’ mengemudinya, mencoba untuk menerka tanda yang berserakan di jalan. Seharusnya, dia memanfaatkan peta yang sudah dibuat oleh otak pemalas untuk menuntunnya menuju titik yang membuat dia merasa bahagia.

Kehidupan kita pun seringkali demikian. Kita terlalu percaya bahwa hanya dengan melihat tanda yang ada, kita bisa mencapai kebahagiaan. Jalan pikiran yang ditempuh oleh otak gegabah penuh dengan sesat pikir, data yang tidakvalid dan juga bias. Kita tidak bisa ‘hanya’ mengandalkan tanda dalam jalan pikiran kita, kita juga perlu peta yang dibuat oleh otak pemalas kita.

Berpikir dengan jernih membiarkan otak gegabah kita menyetir dengan santai sejenak, sembari mengobrol dengan otak pemalas tentang langkah mana yang harus diambil untuk mencapai kebahagiaan.

Part of Series // Membongkar Ilusi Pikiran untuk Jiwa yang Tenang